Senin, 19 Desember 2011

Di Stasiun, Hari itu

Sampai jumpa nenek
Siang itu...matahari sedang cantik - cantiknya dan rajin menyirami bumi pertiwi dengan hangatnya, aku, terduduk di kereta yang sudah pasti mengantarkanku ke tujuanku..melaju pelahan namun pasti ke timur jauh kota jakarta...dinginnya ac memulas majahku dengan lembutnya, membuai mata tuk segera jatuh terlelap keharibaan alam mimpi..serasa hilang sejenak , mataku terbuka mengajak bercengkrama dengan keadaan..ya ampun..sudah 4 jam lebih aku terlena buaian sang penguasa mimpi..kereta pun berhenti lumayan lama, entah ganti penumpang, atau ganti ban,.diantara mereka yang turun dan naik,.mataku tertuju pada sesosok tubuh yang terseok - seok dan terbungkuk layu..namun tak kulihat letih dari parasnya yang sudah lama dimakan usia...seorang nenek dengan baju lusuh seadanya, tanpa alas kaki...berusaha menghalau debu dan sampah yang sejatinya berputar disitu situ saja...lalu sejenak dia berhenti dan terduduk lelah, tapi tak sedikitpun ada kata menyerah...aku yakin dia ingin lekukan lebih, namun kerentaannya tak sejalan dengan gigih semangatnya. dia terduduk , memandang entah apa.. dan memikirkan apa..tapi aku tahu dia lakukan itu dengan ketulusan dan harapan, demi dirinya..demi orang-orang ang dia sayangi..hanya sapu itu yang menemani dia disana..tak jua kulihat dia menengadahkan tangan tuk meminta..matanya kosong..sekosong hatinya..lamaaaa sekali...aku seakan terpesona, terpaku..tak sadar kuteteskan air mata pilu dan tak bisa kubendung rasa haru...yaa Allah...bagaimana bila itu ibuku? bagaimana bila itu aku?...seperti apa rasanya...alhamdulillah yaa rabb, kau hantarkan cermin kehidupan walaupun retak, tapi itu sudah cukup untuk membuat ku mengerti..akan realita, sering aku tak bersyukur, bahkan mungkin mengumpatmu...kuusap pelan air mataku yang sudah membasahi jiwaku yang mulai retak ..berusaha tegar dan terjaga dari lamunan, subhanallah...kenaga aku gak berusaha memberi dia malah hanya ber iba? aku pun melompat berusaha keluar dari gerbong, hanya tuk menyampaikan sedikit rezeki yang ingin kubagi...tapi terlambat, saat itupun kereta berjalan...dan membawaku menjauh dan semakin menjauh dari sosok tua itu... aku hanya bisa diam dan melepas sesal yang tak berujung...yaa Allah...betapa bodohnya aku, aku terlena oleh sedihku, aku terbuai oleh iba ku, aku tersentuh oleh kasihmu, tapi yang kulakukan hanyalah diam....sesal yang tersisa malah lebih mendalam...yaaa allah..maafkan aku..aku tak tahu..hanya bisa ku memohon..berikanlah kebaikan untuk sang nenek, rahmatilah mereka.. seperti kau menyayangiku dan semua orang - orang yang aku cintai dan kau sayangi...maaf ya nek..semoga kitabisa bertemu lagi...



(dari cerita seorang sahabat)

Adi Prawira

Tidak ada komentar:

Posting Komentar